Day 3 :

Nggak kerasa tidur cuma sebentar banget dan kaget juga waktu dibangunin karena tidur sudah mulai nyenyak tapi kami harus kembali bangun dan berjalan untuk memulai petualangan utama. Dengan hanya bermodalkan cuci muka kami langsung bersiap dengan baju perang kami, hahaaa….perang menghadapi hawa dingin pastinya. Gue sendiri sudah siap dengan double jacket, sarung tangan, kaos kaki, sepatu dan masker. Dingiiiiiiinnnnnnnnn sekali pagi itu, dini hari sekitar pukul dua menuju setengah tiga, waktunya ngaret, harusnya sudah berangkat dari tiga puluh menit bahkan satu jam yang lalu. Berangkatlah kami dengan menggunakan jeep terbuka, berdiri pula, sempit-sempitan—nggak terlalu sempit sih karena kami berdiri— tapi menyenangkan. Let’s gooooooo…….

Jalan di antara pohon-pohon besar yang tinggi, tebing-tebing, suasananya gelap juga plus melewati jurang-jurang. Beneran saat itu gelap dan dingin banget, i recommended masker harus dibawa—selain perlengkapan lain yang selayaknya dibawa saat kondisi dingin of course—untuk menahan wajah dari cakaran hawa dinginnya pegunungan.

Cahaya yang ada saat itu hanyalah lampu sorot dari mobil jeep yang kami tumpangi karena jeep lainnya dari rombongan kami masih jauh di bawah belum terlihat, yang lain di sekitarnya, no light, ooppssss…..ada lagi cahaya yang menemani kami, sinar bintang yang terang berkumpul dan bertaburan di atas kepala kami, di langit luas yang indah sekali malam itu, aaaahhhhhh…..andai gue bisa mengabadikannya ke dalam sebuah gambar, tapi keindahan itu terekam keras dalam ingatan gue. Jadi inget lagu Mahadewi-nya Padi, “Hamparan langit Maha sempurna, bertahta bintang-bintang angkasa”. Subhanallah…what a beautiful night sky, malam yang beratapkan bintang gemintang, lucky me.

Perjalanan yang kami lalui menanjak dan berkelok-kelok bahkan ada putaran yang 180 derajat juga. Jeep kami sempat tersendat, mogok dan berhenti, bayangkan di tengah kegelapan hanya dengan sinar lampu mobil jeep dan tiba-tiba jeep itu mati, lamp off too, berhenti di tengah jalanan yang posisinya menanjak, haaahhh….kaget, ngeri, gelap dan untungnya tidak sampai harus mundur ke bawah karena sudah direm, drivernya memang harus yang sudah ahli.

Kami yang berada di jeep terdepan itu harus turun lebih dulu, jalan kaki menanjak mungkin sekitar 100 meter, kumpul sebentar dengan yang lainnya sambil mencari kehangatan, hahaaa…..karena dingin sekali saat itu sampai bicara aja keluar asap dari mulut kami, hawa dingin.

Lanjut menanjak gue pikir sudah dekat ternyata masih beberapa jam lagi perjalanan, entah sudah jam berapa saat itu. Melewati perumahan penduduk—yang gue tidak sangka-sangka ternyata di atas pendakian itu terdapat banyak rumah penduduk, mereka masih tidur pulas sepertinya karena sepi sekali area pemukiman itu, hari masih sangat gelap.

Setelah melewati rumah penduduk pun rupanya perjalanan belum mendekati tujuan, kami harus melewati padang yang hanya ada rumput dan ilalang dikelilingi perbukitan tinggi, dan sepi juga area itu, hanya kadang terlihat jauh ada pula sinar lampu dari kendaraan lain, jeep bahkan motor.

Mungkin waktu menunjukkan pukul lima pagi hampir setengah enam saat kami sampai di Pananjakan. Menunggu datangnya sun rise, langit masih gelap saat itu. Dan terlihat dari Pananjakkan tempat gue berdiri, Semeru pun sedang berdiri megah dan kokoh di tempatnya jauh di sana, gue pun memandanginya sambil bergumam dan berdoa “wish I’ll be there someday, I have to be”.

Semeru

Dan matahari memunculkan diri perlahan, mulai dari berkas-berkas sinarnya yang mulai menyelimuti langit, berganti menjadi terang perlahan, indah sekali. Senangnya bisa melihat sang matahari mengintip malu. Aaahhh….indahnya pagi itu, udara yang sejuk, segar dan dingin.

Tidak lupa kami shalat subuh dulu, hanya bisa dengan bertayamum gue mulai menghadap sang Pencipta, membelakangi sang matahari yang mulai terbit, beralaskan kayu seadanya, beratapkan langit, dengan alam pegunungan yang indah mengelilingi, Subhanallah…..bisa shalat di tempat yang sangat indah, anugrah dari Allah SWT, Alhamdulillah. Honestly I’m speechless about what I have to say of what I was feeling that time. Happy, grateful, amazing, exciting, saat gue beribadah menghadap kepadaNya dengan ditemani oleh seluruh alam ciptaanNya yang berada sangat dekat dengan gue, di sekeliling gue, bahkan langit pun terasa dekat, Allahu Akbar.

Ternyata kami sempat salah tempat, kalau mau lihat sunrise yang lebih jelas itu harus di Pananjakkan dua, menujulah kami ke sana tapi matahari sudah muncul seutuhnya, tidak apa lah, mungkin memang harus ke sana lagi nanti, hahaaa…. Dan memang di Panajakan dua itu orang-orang yang ingin melihat sunrise posisinya tepat di depan munculnya matahari.

Setelah itu kami turun ke padang pasir Bromo, istirahat sebentar, sempat makan bakso Malang dulu loh. Baru aja makanan itu keluar dari kuali panas yang asapnya pun masih terlihat, lalu dibawa jalan sedikit untuk mencari tempat duduk dan saat dimakan sudah terasa dingin, hahaaa…. Next we were going to Kawah Bromo..

Padang pasir Bromo

Kawahnya masih jauh di ujung sana dari tempat kami sedang duduk. Berjalan kakilah kami menuju ke sana, menyebrangi padang pasir yang sudah bercampur dengan kotoran kuda, karena memang banyak kuda di sana sebagai transportasi untuk menuju dan kembali dari kawah Bromo, dan di tengah-tengah padang pasir terdapat kuil untuk suku Tengger. Biasanya pas hari raya umat Hindu kuil itu ramai didatangi untuk sembahyang dan merayakan hari besar tersebut, dan kebetulan sehari sebelumnya memang ada perayaan karena bertepatan dengan hari raya Nyepi.

Kami berniat untuk jalan menuju kawah tapi ternyata tidak sanggup, capek sekali dan tujuan masih jauh, akhirnya naik kuda lah kami, ramai banget, sampai naik kuda aja ngeri, goyang-goyang banget gitu loh, hahaaa….padahal udah tinggal duduk manis aja. Jalur perjalanan buat yang jalan kaki dan yang naik kuda itu sama, dan si kuda dan guide nya itu nggak mau ngalah sama yang jalan kaki jadi si pejalan kaki yang harus ngalah, ngeri ditabrak kuda, Anty dan Ari malah udah jadi korban, ke sabet sama buntut kuda, qiqiqiiiii……

Sesampainya di kaki tangga, mulailah kami menanjak, melangkahi satu per satu anak tangga, tangganya kecil-kecil, sempit hanya cukup untuk dua orang di kanan-kiri dan pegangannya pun sudah mulai hancur, mungkin karena letusan gunung Bromo yang lalu. Mau ngitungin ada berapa anak tangganya—yang katanya sih ada 250 anak tangga—tapi gak sempat karena saking capeknya, ngos-ngosan, napas kayak tinggal sedikit, heheee…..sempat down dan pengen nyerah gue saat itu, habis capek dan ngeri banget kalo ngeliat ke bawah, nggak sanggup, muka kayaknya udah pucat saking capeknya. Tapi kemudian Anty menyemangati—padahal sempat pengen balik turun juga dia tadinya, heheee….. Katanya, kapan lagi kita ke sini, udah jauh-jauh masa nggak naik sampai tangga paling atas, hmmmm…..iya juga sih, rugi kalau tidak menaklukkannya, bisa jadi sekali seumur hidup, tapi berharap bisa ke sana lagi. Sampai di atas kami tidak berlama-lama karena ramai, ngeri jatuh juga, hahaaa…..sudah puas dan tahu lihat kawah Bromo seperti apa, kami langsung turun. Lumayan perjalanan turun tidak terlalu melelahkan tapi tetap aja bikin ngeri juga.

Kawah Bromo

Sampai di bawah tangga, kami istirahat dulu, sekalian foto-foto. Oiya, hati-hati buat yang berada di bawah anak tangga kawah Bromo. Di samping tangga kan ada jalanan juga untuk akses turun naik tapi itu bukan tangga melainkan pasir, jadi kayak perosotan gitu deh, biasanya buat yang para pemberani yang suka tantangan juga bisa menjaga keseimbangan mereka lewat jalur itu, tapi gue juga tidak tahu apakah jalur itu memang ada dari dulu atau baru pada saat gue ke situ saja yang notabene saat itu kan habis terjadinya letusan gunung Bromo.

Jadi ceritanya gue dan Ari lagi duduk-duduk di batu sekitar anak tangga, lagi asyik-asyik nyantai di situ sambil foto-foto eh tiba-tiba ada batu lumayan besar yang meluncur turun kencang dari atas lewat jalur pasir itu. Akibat dari salah seorang yang mau turun lewat jalur pasir itu dan mungkin menyenggol batu jadinya jatuh dan arah jatuhnya itu tepat banget ke arah gue dan Ari. Sumpah gue panik banget bingung mau menghindar ke mana, kiri atau kanan? Sebenarnya bisa tinggal langsung bergerak aja menjauh, tapi karena panik dan terlalu fokus sama jalannya si batu itu yang akan ke mana gue jadinya malah bingung mau menghindar ke mana, jadinya malah stay di tempat, dan Alhamdulillah untungnya di depan kami berdiri ada pasir yang membentuk aliran seperti selokan dan batu yang jatuh meluncur turun itu pun terjebak di dalamnya, Alhamdulillah.

Kembali ke tempat parkiran jeep di padang pasir akhirnya kami memulai perjalanan pulang. Ternyata kabut atau mungkin awan sudah mulai turun, puncak Bromo sudah mulai tidak terlihat karena diselimuti awan, kami harus segera turun karena jalanan sudah mulai dibanjiri oleh awan, akan jadi tidak kelihatan. Saat meninggalkan area Bromo melewati seperti lapangan yang dipenuhi oleh awan yang mulai merendah, gue coba merentangkan tangan untuk bisa menyentuh awan-awan itu, I got it but a second later it was gone, can’t touch it, I just can felt it, on my hand, it’s cold.

Perjalanan pulang kami melewati padang Savana. Padang rumput yang hijau nan indah, huaaaaaa…….enaknya tidur-tiduran di situ ya, hahaaaa…..tapi gak bisa lama-lama hanya sempat foto-foto karena langit mulai gelap, bukan karena malam atau mau hujan tapi entahlah, awan gelap mulai menyelimuti. Kembali turun, melewati jalur yang tadi. Hmmmm…..akhirnya bisa melihat juga jalanan dan pemandangan sekitar yang kami lewati pas berangkat saat masih gelap. Karena pas pulang kan sudah terang, heheee……

Padang Savana Bromo

Sesampainya di penginapan, bersih-bersih, beres-beres, then we were back home. Sempat mampir beli oleh-oleh dulu lalu menuju stasiun kereta Malang. Kereta mulai melaju sekitar pukul  satu atau dua siang, maaf gue lupa, heheee…. Kembali melepas lelah di kereta ekonomi yang jujur memang kurang nyaman untuk tidur tapi lumayan untuk sekedar mengistirahatkan badan dan kaki dari serangkaian petualangan seru nan mengasyikkan dan tak terlupakan.

Day 4 :

Sampai di Jakarta mungkin jam setengah Sembilan atau Sembilan pagi. Gue, Anty dan Ari turun di stasiun Bekasi, dari situ lanjut naik kereta lagi ke stasiun Cakung dan kami pulang ke rumah masing-masing. Membersihkan lalu mengistirahatkan badan dengan terbawa memori yang tak terlupakan.

Terima kasih karena masih diberi kesempatan olehNya untuk menikmati indahnya alam ciptaanNya.

Next destination…..ummmmm…….;) just keep close on my blog, u’ll see later for the next trip posting, heheeee……

Wish all of us luck.

About ririey2008

I'm just who i am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s