Beberapa minggu yang lalu tepatnya malam minggu, me and my beloved one, Taufik, finally bisa juga jalan bareng. Setelah beberapa bulan belakangan setiap malam minggu hampir tidak pernah yang namanya ketemu dan jalan bareng karena studynya, huffttt…, heheee….

Jadi ceritanya nih, jalanlah kami menuju pusatnya Jakarta, Monas, yang sudah pasti ramai banget dengan pelancong lokal maupun dari luar kota yang mau melihat landmark-nya sang ibukota. Buat orang Jakarta mungkin sudah biasa banget, tapi buat mereka yang dari luar kota pasti merupakan suatu kebanggaan dan kesenangan bisa berada di sana dan melihatnya langsung. Sama seperti kita-kita nih yang orang Jakarta datang ke kota mana saja yang jarang dan belum pernah dikunjungi. Seperti orang Jakarta yang pasti senang banget bisa melihat dan ada di jembatan Ampera yang buat orang Palembang mungkin sudah biasa. Seperti orang Jakarta juga yang senang-senang saat berada di alun-alun kota Jogja yang buat orang setempat pun itu sudah biasa. Seperti juga saat orang Jakarta yang terkesan banget dengan tempat rekreasi Batu Night Spectacular yang buat mereka orang Malang itu pun sudah biasa, hehee….

Monas, ramai sekali malam itu, seperti malam weekend lainnya. Sesampainya kami di sana, baru berjalan sebentar kami sudah melihat satu titik yang dikerubungi oleh orang banyak, melangkahlah kaki kami ke tempat tersebut. Ternyata seorang kakek yang sedang memamerkan sulapnya. Duduk lesehan beralas tikar dengan tiga macam alat permainannya. Ia menjual dan mempraktekkannya, dengan gayanya yang lucu, ramah, tersenyum dan menyenangkan. Itu salah satu hal yang katanya bikin Taufik tertarik, suka dengan cara ia menjual dan memasarkan dagangannya.

Ini pembelajaran pertama gue, setelah dengar kata-kata dari Taufik juga. Dengan dagangan yang sederhana, bukan barang yang “wah”, seorang yang sangat sederhana dan biasa-biasa saja itu pun mampu menarik minat banyak orang, mereka langsung mengerubunginya padahal masih banyak atraksi dan aksi-aksi yang lain, barang dagangan yang lain yang serba lebih. Tapi kakek itu dengan sikapnya yang sangat ramah, lucu, ditambah senyuman yang menyapa orang di sekitar, ia mampu menarik hati dan menyenangkan para penontonnya, dan menjadikannya luar biasa.

Game pertama lah yang bikin gue, Taufik dan penonton lainnya, ya bisa dibilang amazed lah ya. Gue tau itu pasti sulap-sulap tipuan untuk anak kecil, semacam pak Tarno gitu lah –jadi apa prok rok prok– tapi sesaat bikin bingung yang melihat juga, aneh gitu loh, howcome. Jadi nih uang dimasukkan ke dalam kertas, dibungkus, terus dibungkus kertas lagi dan dimasukkan ke kertas lagi, tiga rangkap. Kemudian dengan caranya yang lucu ia komat kamit sambil sembur-sembur dan teriak “hilang”. Ia buka kertasnya satu persatu, and abracadabra…it was gone. Ia bungkus lagi semuanya satu persatu, komat-kamit lagi, dibuka lagi dan ada lagi uangnya. Pada tepuk tangan deh semuanya untuk beliau.

Ada beberapa orang yang diizinkan untuk mencobanya langsung sendiri, dan tetap sama aksi dan hasilnya seperti itu juga, nggak kelihatan triknya di mana, hmmmm……sekelas Deddy Corbuzier nih, heheee…..penasaran banget kok bisa gitu ya?? Belakangan baru ketahuan deh triknya, sampe ketawa-ketawa kita kena tipu gitu, hahaaa…jadi kayak anak kecil😉 *thumb up*

Game ke dua, kartu yang dibolak-dibalik, diambil, ditaruh dan segala macamnya deh, yang gambarnya jadi hilang, jadi sama semua, jadi berbeda, but I know that was only a trick. Yang satu ini tidak begitu menarik perhatian gue. Yakin dan tahu deh triknya, hanya saja cara ia menunjukkannya kayak udah expert gitu, hehee….

Game terakhir yaitu sebuah kertas dengan gambar balok yang tersusun, ada yang sisinya polos, ada yang diwarna hitam dan ada yang diarsir. Ada satu kotak di atas, beberapa di baris ke duanya dan lebih banyak lagi di paling bawah. Ia bolak-balik kertas itu ke bawah, ke atas, ke bawah lagi, ke atas lagi. Ia bilang ada kotaknya satu di atas dan beberapa di bawah, iya gue melihatnya, mungkin yang lain juga. Ia balik ke bawah tapi kotaknya tetap satu di atas (logically, harusnya tukaran ya, yang banyak jadi di atas dan satu di bawah), begitu katanya dan iya. Ia balik lagi ke atas dan kotaknya satu tetap di atas, lalu ia balik lagi ke bawah dan ia bilang kotaknya satu turun ke bawah, yupz. Dibalik lagi ke atas tapi kotaknya yang satu tetap di bawah, dan iya gue lihat kotaknya yang satu kenapa jadi ada di bawah dan tidak ada di atas, ia balik lagi ke atas dan katanya satu kotaknya tetap di bawah dan iya benar, hahaaaa…… Intinya yah, itu cuma tipuan mata, that’s it.

Hope you guys who read this get what I meant though only just by my writing, because this need to be practiced, heheee….. :p

I know that was only the eyes trick, itu cuma tipuan mata. Mungkin kita terlalu fokus dengan kata-kata si kakek itu jadi ikut melihat apa yang ia katakan, gitu kali ya, hmmmm…..

Taufik beli ketiga permainan itu hanya dengan harga dua ribu rupiah dan bukan hanya dia yang tertarik untuk membelinya tetapi penonton yang lain juga. Permainan-permainan kecil yang sangat sederhana, bukan? Tapi mampu menarik minat banyak orang dan membelinya.

Mereka mungkin penasaran, tapi pasti ada yang selain penasaran tapi juga karena senang dengan cara si kakek menjual dagangannya, entertaining banget, maka mereka membelinya. Sepertinya itu juga alasan Taufik membelinya, he likes that old man, wasn’t it?😉 dan penasaran juga sama permainannya sih, hehee…. Hanya melihat saja tapi sungguh kakek itu terlihat sangat menyenangkan penonton di sekitarnya. Berdoa semoga malam itu dan malam selanjutnya ia diberikan dan ditambahkan rizkinya.

Jalan..jalan lagi, terus nih, setelah gue perhatiin kertas bergambar balok itu, ya itu memang cuma tipuan mata, di saat yang bersamaan tanpa perlu membolak-balik kertas itu kita sebenarnya bisa lihat kok balok itu kadang berada di atas kadang juga berada di bawah, atau bisa juga melihat keduanya saling berada di tempatnya dengan jumlah yang sama-sama satu, itulah sebenarnya, tipuan mata saja. We can see the whole boxes.

Itu juga yang jadi pembelajaran ke dua gue. Jangan tertipu hanya dari apa yang kita lihat, yang kita dengar. Rasakan dengan hati tapi tetap berpikirlah dengan logika. Contohnya, setiap orang itu pasti punya sisi baik dan buruk. Tidak semua orang hanya baik saja atau buruk saja.

Jangan lihat hanyalah dari satu sisi saja, jangan hanya terfokus pada satu hal saja, yakinlah setiap orang punya banyak hal yang bisa dilihat, jangan hanya lihat keburukkannya, ia juga pasti punya kebaikkan, lihatlah dari sisi lain juga.

Kita sendiripun seperti itu. Kita merasa baik tapi pasti pernah juga berbuat yang kurang baik atau suatu kesalahan. Jika orang itu suka atau pernah berbuat buruk dan bukan berarti menjadikannya buruk seterusnya dan seluruhnya, pastilah ia juga pernah punya dan berbuat kebaikkan, punya sifat baik.

Berfikir dengan logika, dengan kepala dingin dan jangan egois, karena kita bukanlah orang yang sama sekali tidak pernah berbuat kesalahan, jadi orang lain pun seperti itu juga. Ingatlah akan kebaikkannya. Kita tidak bisa menilai segalanya hanya dari kacamata kita sendiri.

Never judge anyone….because you never know how their life is and what they’re going through.

“Ps: Gue juga masih harus belajar banyak tentang pelajaran ini, semangat!”

Image

About ririey2008

I'm just who i am

3 responses »

  1. cieeeeeeeeeeee, bagus banget nie tulisannya,
    like it very much, as I like & love you everyday…

  2. ebietemen sebangku dismu says:

    hehehe….baru tau ria punya blog…boleh juga nih tulisannya…

  3. ririey2008 says:

    qiqiqiiiiii…..udah lama bie, makasih ya udah mampir juga😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s