Kabut tipis menyelimuti daerah iitu. Matahari belum muncul seluruhnya. Di sekitarnya ada burung-burung bernyanyi, bergembira dalam kesegaran pagi. Wangi bunga bercampur dengan bau kelembaban bumi yang mengisi udara. Sungguh pagi yang indah.

Aku berjalan pelan menyusuri jalan desa. Walaupun masih jam lima lewat sepuluh, jalanan sudah ramai oleh para penduduk desa yang akan pergi ke ladang, pasar, atau kota terdekat.

Kemudian aku berjalan ke tempat di mana aku bisa melihat para petani yang sedang bekerja di ladang. Aku sangat tertarik pada semua yang ada di sekitarku, dan suasananya. Jadi, aku tidak sadar sudah berjalan terlalu jauh dari rumah bibi, tempat di mana aku menghabiskan masa liburanku semester ini.

Aku terus berjalan dan menikmati pemandangannya. Akhirnya, aku tiba di sebuah tempat dengan papan putih besar di depannya. Di situ tertulis :

DANAU REMIS

Tourist Site

Dibuka setiap hari untuk umum

Pukul 9.00 sampai 16.00

Aku tahu tempat itu belum dibuka, tapi aku ingin sekali melihatnya. Jadi, aku mendekati pagarnya, yang sudah terbuka lebar. Tapi, ketika aku mau masuk, suara seorang pria terdengar, “Hei, kamu sedang apa? Tempat itu belum dibuka.” Sedikit kaget, aku melihat ke sekitar. Seorang pria sedang berdiri dengan sapu di tangannya. Pasti ia sedang membersihkan tempat itu.

“Oh, saya tahu, pak. Tapi, bolehkah saya masuk untuk melihat-lihat sebentar saja?” pintaku. Ia terlihat berpikir sejenak. Kemudian “Kamu bukan penduduk sini, ya kan?” tanyanya. “Iya pak, saya dari Jakarta,” jawabku. “Baiklah, silahkan. Tapi ingat, jangan berenang di danau. Itu berbahaya.” Aku tersenyum. “aku akan mengingatnya, pak. Terima kasih.”

Lalu aku masuk. Sebuah papan hijau besar menyambutku. Di situ tertulis apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pengunjung selama mengunjungi daerah itu, seperti: Tidak boleh berenang, Membuang sampah pada tempatnya, dll.

Berjalan lebih jauh ke dalam, aku melihat kolam renang kecil di sebelah kiriku sedangkan di sebelah kananku ada taman kecil dengan ayunan dan jungkat-jungkit. Sambil terus berjalan, aku melihat pemandangan yang menakjubkan. Tepat di tengah-tengah dari semuanya ada sebuah danau.

Danaunya tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil. Dibatasi oleh bunga-bunga di sepanjang tepinya dan dikelilingi oleh jalan kecil. Jalan itu sendiri dibatasi oleh pohon-pohon besar, banyak bangku dan beberapa warung makanan di sekitarnya.

Lalu aku duduk di salah satu bangku tersebut, melihat ke arah danau. Airnya hijau dan tenang. Aku heran kenapa berbahaya berenang di situ, seperti kata laki-laki tua itu dan papan di samping danau tertulis : Berbahaya, jangan berenang di danau, tapi mungkin itu hanya sekedar ungkapan seperti : Air tenang bisa menghanyutkan.

Suasana di sekelilingku sunyi dan tenang, menenggelamkanku dalam lamunan. Tapi tiba-tiba, ada suara mengejutkanku.

“Halo.” Aku melihat seorang anak laki-laki, seusiaku, berdiri di depanku. Ia tersenyum. Ia mengenakan kaos putih dan jeans lusuh. “Oh, halo. Maaf  saya tidak dengarmu datang,” aku minta maaf.

“Tidak heran. Kamu sedang melamun.” Masih tersenyum, ia duduk di sebelahku. Aku tertawa. “hmm…jangan salahkan aku. Tempat ini sunyi sekali, tidak tahan untuk melamun.”

“Kamu benar,” ia tertawa juga. “Kamu bukan orang sini, kan?”. “Iya. Aku dari Jakarta. Di sini sedang liburan sekolah”, jawabku. “Kalau kamu?”. “Aku dari kota di dekat sini, aku juga sedang liburan.”

Beberap menit berlalu, kami terlibat dalam sebuah percakapan, membicarakan tentang sekolah, musik, olah raga dan hal-hal remaja lainnya Sungguh menyenangkan mengobrol dengan anak lelaki, yang namanya adalah Sonny Darmawan, dan aku tidak sadar sudah waktunya kembali ke rumah bibi. Aku melirik jam tanganku saat matahari sudah mulai bersinar terang. Sudah hampir jam delapan. Jadi aku cepat-cepat  berdiri.

“Maaf, aku harus pergi sekarang, aku berjanji pada bibiku untuk pulang sebelum jam delapan karena kami harus sarapan bersama,” kataku.

“Tidak apa-apa,” Sonny tersenyum.

“Kau masih ingin duduk di sini?”

“Ya, sebentar saja.”

“Kalau begitu sampai ketemu lagi,” aku tersenyum.

“Ya, senang bertemu denganmu, Prita.”

“Aku juga, Sonny.”

Buru-buru, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada laki-laki tua tadi, aku meninggalkan tempat itu. Saat tiba di rumah bibiku, semuanya sudah menungguku.

“Kamu dari mana saja? Karena kamu tidak tahu desa ini, aku pikir kamu tersesat,” kata bibiku, memukul punggungku. “Maaf aku terlambat, bi,” aku meminta maaf. “Tidak apa-apa, ayo makan!” kata pamanku, tersenyum.

Kemudian kami sarapan bersama sambil ngobrol. “Hei, Prita. Bagaimana kalau kita ke danau remis siang ini?” tiba-tiba, Wini, sepupuku, yang seusiaku, menyarankan. “Iya, kamu harus melihatnya, indah sekali,” Windi, kakak Wini, menambahkan.

“Aku mau, tapi aku sudah melihatnya, betul-betul indah,” kataku. “kamu sudah ke sana?” mata Wini terbuka lebar. “Sendiri?”

“Nggak juga,” jawabku. “Aku bertemu seorang laki-laki tua di sana” . “Pak Parjo, penjaganya,” kata Windi. “Dan seorang anak laki-laki, Sonny Darmawan,” aku menambahkan. “Apa?!” kali ini, semuanya terkejut, diikuti dengan, “Ya ampun!”

Aku terdiam sebentar, tidak tahu apa yang sedang terjadi. “Siapa saja tolong kasih tahu aku ada apa, jangan Cuma bilang “ya ampun,” kataku. Semuanya terdiam.

Kemudian, “Prita,” suara pamanku memecahkan kesunyian. “Empat tahun yang lalu, saat berenang di danau masih diperbolehkan, ada empat anak laki-laki yang datang dari kota terdekat menghabiskan waktu liburan sekolah mereka di danau Remis. Mereka bermain dan berenang di danau dengan senangnya. Airnya sangat tenang tapi tiba-tba salah satu dari mereka menghilang. Ia tenggelam. Keluarga dan teman-temannya bersama penduduk desa mencarinya, tapi tubuhnya tidak pernah ditemukan. Jadi, setelah tiga hari pencarian, mereka akhirnya menyerah. Tetua desa berpikir kalau anak laki-laki itu dimakan buaya putih yang dipercaya menjadi penunggu danau itu,” kata pamanku.

“Dan?” aku bertanya tidak sabar. “Dan,” bibiku menjawab, “anak laki-laki yang hilang itu adalah Sonny Darmawan.”

“Apa?! Ya Tuhan!” sekarang giliranku yang terkejut.

Taken from C `n S Magazine 2002

ps: gue suka cerita ini, kind of mysterious…so i put it on my blog, thank’s

About ririey2008

I'm just who i am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s