Tulisan ini gue ambil dari salah satu Group yang ada di Facebook yang bernama Masyarakat Anti Program Televisi Buruk, ini adalah salah satu message yang dikirimkan oleh group ini kepada para membernya, gue suka sama isinya makanya gue post di blog gue ini. Kalian yang belum join ayo dunk join group ini, ya!!!

komentar menarik dari anggota MAPTB

January 14 at 1:05pm

Berikut ada komentar yang sangat menarik untuk disimak dari salah seorang anggota grup MAPTB bernama Diana Sartika. Ia menulisnya di forum diskusi yang ada di fitur grup MAPTB. Silahkan disimak dan dikomentari pada fitur diskusi tersebut:

Saya juga sejak lama memikirkan hal yang sama dengan beberapa poin yang ditulis mas Veven dalam artikel Horor + rumor made in televisi Indonesia = Humor. Tapi ujung-ujungnya ya cuma begitu begitu saja, ngomel-ngomel sendiri tanpa ada hasil konkret.

Jadi, kesimpulannya selain program berita dan sedikit program anak, seperti Si Bolang, memang nyaris 99% (maaf, kalau terlalu ekstrim) tayangan tv indonesia tidak layak tonton, karena tidak mendidik bahkan justru membodohi dalam banyak cara, dan juga tak masuk akal.

Orang-orang tv itu layaklah disebut mafia penyiaran. Karena mereka bekerja untuk uang, dan mereka melalaikan aturan Company Social Responsibility. Bullshit yang namanya sinema religi. Bahkan segala program yang diusung untuk menyemarakkan bulan puasa sekalipun malah jatuhnya melalaikan, karena tayangannya, yang seperti biasa, keluar jalur.

Tak hanya sinetron yang meracuni pemirsa dengan segala content tak pantas; saling benci, kekerasan, kata-kata kasar, lifestyle sampah, hedonisme, konsumtif, inti cerita yang selalu sama – yang dari episode pertama sudah bisa ditebak endingnya, plot dan intrik-intrik kacangan, serta benang merah yang menyedihkan itu: orang baik yang harus selalu tertindas. Derita tiada akhir. Membuat saya bertanya, para penulis skenario itu belajar sastra di mana, hingga mereka sampai pada pemahaman konyol dan dangkal bahwa tokoh protagonis adalah tokoh yang harus menderita??? Dan yang paling menjijikkan bahwa anak-anak remaja dipakai untuk memerankan tokoh dewasa, sebagai pasangan suami istri. PLUS, gaya pacaran ala sinetron yg diadaptasi habis-habisan oleh anak muda saat ini. Ya Rabb, betapa kita membutuhkan Keluarga Cemara, dan Si Doel Anak Sekolahan.

Program kriminal juga pada akhirnya menjadi faktor pemicu meningkatnya angka kriminalitas, karena tak sedikit orang malah mendapat ide dari tayangan semacam itu. Dulu pada zaman TVRI jadi primadona, kita tak kenal mutilasi, suami membakar istri, ibu membunuh anak, dan hal-hal gila lainnya. Pada awal munculnya tayangan sejenis ini memang sedikit membantu pemirsa menjadi lebih alert dengan lingkungan sekitar. Tapi makin ke sini malahan jadi sumber inspirasi tindak kejahatan.

Masih kurang?? Masukkan program-program musik live yang tayang pagi siang sore malam, hampir di setiap stasiun TV. Jam 7 pagi sudah ada musik live? Penontonnya tak ada kerja lainkah? Padahal kebanyakan mereka adalah usia sekolah. Satu lagi bukti otentik IMPOTENSI masyarakat kita. Dan kita DIBODOHI oleh kotak menyebalkan yang nangkring di depan mata itu.

Percuma juga mafia penyiaran itu memberlakukan kode untuk mengkategorikan program-program mereka. It’s fucking useless. Mayoritas masyarakat kita belum cukup cerdas untuk memahami makna kode-kode tersebut, selain sebatas tahu kepanjangannya. Tapi bahkan yang berwenang memasang kode rupanya juga tak paham dengan kode-kodenya sendiri. Dia bingung apa yang dimaksud dengan tayangan untuk anak-anak, apa kriteria dan batasan-batasannya. Dia tak paham kapan harus menayangkan program untuk dewasa, dan sebagainya.

Tambah lagi iklan yang makin lama makin tak ber-etika. Mereka tak malu menjual barang dengan cara menjatuhkan dan mendiskreditkan (walaupun secara tak langsung) dagangan orang lain. Di mana mental enterpreneurship mereka? Dan apa pihak tv perduli? TIDAK. Karena mereka butuh iklan untuk menopang hidup.

Lantas siapa yang harus bertanggungjawab atas semua ini? Tentu saja kita semua. Tapi lokomotifnya adalah KPI. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia harusnya juga punya andil dalam hal ini, bukan cuma ngurusin ayam tiren dan bakso tikus. Dan pertanyaan besarnya adalah; apa yang akan kita lakukan sekarang? Dengan lebih dari 1000 member saya akui saya berharap banyak dari komunitas ini. Bahwa generasi kita perlu dilindungi. Bahwa ada ancaman yang mengintai generasi kita, ancaman yang tak kalah berbahaya dari narkoba, yaitu TV. Jadi MULAI SEKARANG bisakah kita juga KATAKAN TIDAK PADA TV?

About ririey2008

I'm just who i am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s